“ Minimnya Minat Berorganisasi di Kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa ” APMD “ Yogyakarta. Oleh. Darwis Mawo

” Jadikan organisasi sebagai penyokong dan penyelamatan kuliah teman-teman. ”

Tidak dipungkiri lagi bahwa mahasiswa menjadi garda terdepan bangsa dan  sejarah mencatat  bahwa keberhasilan  mahasiswa Indonesia  mampu menggulingkan roda pemerintahan yang sewenang-wenang pada masa  Orde Baru.  Lewat persatuan seluruh Mahasiswa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. 20 tahun sudah cerita itu terdegar namun berorganisasi  itu hilang seakan tertelan jaman, terlihat jelas di kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta. Seperti dilangsir Majalah Teropong Edisi Khusus Dies Natalis/Th. III/ Desember/2005, yang mengupas Mati Surinya Organisasi Mahasiswa dikampus ini.

Banyak sekali mahasiswa yang saat ini merasa enggan berorganisasi dan menganggap organisasi hanya sebagai penghambat perkulihan. Namun saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana organisasi internal kampus mulai exsis kembali. Ada banyak pilihan organisasi yang dapat diikuti baik minat olahraga, kesenian, penalaran , yang ada di dalam kampus APMD maupun yang ada di luar kampus. Kesempatan saat ini menjadi mahasiswa selayaknya dapat dipergunakan sebaik mungkin untuk mengasah dan mengeksplor potensi diri seoptimal mungkin.  Kenyataan yang terjadi saat ini, mahasiswa hanya tahu 3K ( kuliah,kampus dan kost ),  ada banyak kesempatan yang lainnya yang mungkin dapat diperoleh mahasiswa dengan aktif berorganisasi .

Dilain sisi mahasiswa yang  berorganisasi  sering terjadi benturan  presepsi  yang salah dari masyarakat awam dan mahasiswa itu sendiri,  yang melihat bahwa berorganisasi  hanyalah membuang waktu dan di tambah tuntutan dari orang tua yang ingin anaknya lulus dengan nilai yang memuaskan  serta ditambah dengan biaya kuliah yang tinggi, oleh karena itu dapat dimaklumi jika orang tua melarang anaknya berorganisasi  agar mereka dapat lulus dan memperoleh masa depan yang baik tanpa membuang waktu percuma dalam berorganisasi.

Untuk menjawab kegelisahan dari orang tua yang menganggap berorganisasi hanya penghambat kuliah mahasiswa. Bagi mahasiswa berprestasi yang membawa nama organisasi dan teristimewa mengangkat nama Kampus tentunya kampus memberikan apresiasi tersendiri bagi mahasiswa yang berperstasi dalam organisasi semacam beasiswa. Sehingga orang tua merasa bahwa berorganisasi di kampus bukan menjadi penghambat kuliah namun merupakan wadah tersendiri bagi mahasiswa yang ingin belajar dan mencapai prestasi demi membantu biaya kuliahnya sendiri.

Namun cerita di atas  terjadi tidak  kepada semua mahasiswa yang ada di kampus APMD, masih banyak yang enggan berorganisasi dengan alasan yang berbeda, di antaranya tugas yang terlalu banyak, kuliah yang sehari-hari banyak atau karena tidak mau terbebani oleh kegiatan organisasi kampus, serta di tambah lagi dengan tawaran kota Yogyakarta yang memiliki surga  tersendiri buat mereka yang mencintai kebebasan dan bisnis hiburan dengan harga murah hingga berharga mahal akan muda kita temui di kota Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *