Selamat: Umbu Domu Mahani, Terpilih Sebagai ketua HMPS Ilmu Sosiatri Periode 2018/2019

 

Ketua (kiri) dan Wakil Ketua (kanan) Terpilih Periode 2018/2019

Himpunan Mahasiswa Program Studi merupakan perubahan dari
Himpunan Mahasiswa Jurusan sesuai dengan perubahan draf organisasi pada musyawarah tahunan HMJ IMATRI (Minggu, 27/05/2018) dengan Tema “Lahirnya pemimpin yang cerdas bertangungjawab dan berdedikasi tinggi menuju IMATRI yang bersinergi”.

Himpunan Mahasiswa Program Jurusan (HMPS)  Ilmu Sosiastri, telah melaksanakan pemilihan kepengurusan HMPS dengan ketua terpilih Umbu Domu Mahani dan Wakil Ketua Yoseph Samianto. 

Pemilihan kepengurusan HMPS berlangsung di kampus STPMD “APMD” Yogyakarta diruang M. Soetopo (Senin, 28/05/2018).

Dengan Terpilih pengurus baru HMPS Ilmu Sosiatri dapat mengemban amanah sebagai ketua dan wakil ketua HMPS Ilmu Sosiatri dengan rasa tanggungjawab dan profesional demi kemajuan HMPS Ilmu Sosiatri sesuai dengan Visi Misi pengurus terpilih.

Aksi Peduli Desa (APD) “Bukti Nyata STPMD “APMD” Peduli Desa”

Oleh: Mufty

“Desa merupakan kesatuan hukum tempat tinggal suatu masyarakat yang berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri merupakan pemerintah terendah dibawah kecamatan”. (Sutarjo Kartohadikusumo)

Definisi yang dipaparkan oleh Sutarjo belum seutuhnya dapat diserap dan dipahami oleh khalayak umum, sehingga menyebabkan kebingungan yang mempengaruhi sikap terhadap desa, sehingga sampai saat ini masih banyak desa dibeberapa wilayah tidak terurus bahkan terlupakan keberadaannya. Selama ini desa hanya dipandang sebelah mata, dianggap sebagai suatu tempat yang kumuh dan tertinggal, serta dihuni oleh orang-orang primitif pedalaman yang terisolasi dari keramayan.

Pada tahun 2004 dicetuskan dan sahkan suatu peraturan perundang-undangan yang dikenal sebagai Undang-Undang No.6 Tahun 2004 tentang Desa, telah menjabarkan tentang desa secara detail, hingga dalam Undang-Undang tersebut mengandung aturan-aturan yang berguna untuk mengembalikam desa sebagaimana mestinya. Munculnya Undang-Undang Desa tidak lain adalah sebagai bentuk tatanan mengenai desa yang dikembalikan kepada asal-usulnya. Hal yang perlu disadari bahwa sejatinya desa disetiap daerah telah ada jauh sebelum Indonesia terbentuk sebagai sebuah negara yang berdaulat. Dalam artian, keberadaan Undang-Undang Desa sebagai langkah yang mengupayakan pengembalian keragaman tatanan sesuai adat-istiadat dan aturan lokal, sebelum diseragamkan oleh rezim Orde baru, dengan maksud dan tujuan agar kesejahteraan bisa benar-benar terpenuhi.

Secara garis besar terdapat beberapa hal yang diatur dalam UU Desa antara lain adalah tentang:

  1. Asas pengaturan.
  2. Penataan desa.
  3. Kewenangan desa.
  4. Penyelenggaraan pemerintah desa.
  5. Hak dan kewajiban desa dan sayrakat desa.
  6. Peraturan desa, keuangan desa dan aset desa.
  7. Kedudukan dan jenis dana.
  8. Pembangunan desa dan pembangunan kawasan pedesaan.
  9. Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa).
  10. Kerja sama desa.
  11. Lembaga kemasyarakatan desa dan lembaga adat desa.
  12. Pembinaan dan pengawasan.

Dari ke-12 poin yang diatur oleh Undang-Undang Desa No.6 Tahun 2004 mengarah pada desa yang mandiri yang memiliki hak otonomi atau hak menagatur pemerintahannya sendiri.

Hal yang seharusnya dicapai yang sesuai dengan apa yang diamanahkan oleh UU Desa No.6 Tahun 2004 adalah:

  1. Desa mandiri
  2. Desa mendapat sumber pendapatan desa yang terdiri atas pendapatan asli desa, bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota, bantuan keuangan dari anggaran pendapatan dan belanja negara, dan lain-lain.
  3. Desa memiliki badan usaha sendiri yang disebut Badan Usaha Milik Desa (BUM Des)
  4. Desa dapat mengatur urusannya sendiri tanpa terinterpensi oleh pihak lain.

Namun hal yang seharusnya tercapai sebagaimana yang diamanahkan oleh UU Desa belum terealisasi seutuhnya. Ada beberapa bagian yang belum mereka terima dan mungkin tidak akan mereka terima!

Kenyataan yang desa hadapi adalah belum ada kemampuan untuk mengurus dan mengatur desa seperti apa yang diamanahkan oleh UU Desa baik hal itu disebabkan oleh pengetahuan yang minim atau disebabkan oleh administrasi yang harus mereka penuhi menyulitkan. Dari disahkannya UU Desa pada Tahun 2004 hingga saat ini masih banyak desa yang belum mampu mengurus urusan mereka sendiri. Dan bahkan Cuma beberapa desa yang mampu menyetuskan Badan Usaha Milik Desanya, dan juga ada beberapa desa yang tidak jelas pendanaannya, baik yang tak sampai kepada mereka atau dana yang digelapkan oleh pemerintahannya. Maka dalam membangun desa menuju desa mandiri diperlukan adanya dukungan dari 3 pihak yaitu pemerintah, masyarakat dan swasta (baik perusahaan, lembaga non pemerintah dan perguruan tinggi).

Berangkat dari kenyataan-kenyataan yang dihadapi oleh desa dan atas keperihatinan akan desa yang terlupakan dan dilihat kumuh maka tercipta sebuah aksi nyata sebagai bentuk kepedulian perguruang tinggi STPMD “APMD” terhadap desa, dengan kegiatan yang dikenal sebagai Aksi Peduli Desa (APD).

Aksi Peduli Desa (APD) merupakan sebuah aksi kecil yang menjadi penggerak awal guna menyadarkan penghuni desa baik masyarakat dan pemerintahannya untuk melihat kembali potensi-potensi yang ada didesa dan sebagai pemicu gerakan partisipasi masyarakat agar ikut andil dalam pembangunan dan pengembangan desa. berdasarkan Trihidmat pendiddikan sebagai dasar aksi peduli terhadap desa menjadikan APD sebagai wadah pengabdian dan pembelajaran yang berjalan bersamaan, serta sebagai bentuk kepekaan mahasiswa prodi Ilmu Sosiatri terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh desa dan masyarakatnya.

Referensi;

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 tentang Desa (pdf)

Bank Sampah Gemah Ripah Bantul: Dari SAMPAH Menjadi RUPIAH

Diawali dari fenomena alam gempa bumi pada tahun 2006. Keadaan lingkungan di Dusun Badengan, Bantul sangat memprihatinkan dengan keadaan lingkungan yang kumuh, terlihat banyak sampah di setiap sudut rumah warga. Dari situlah muncul ide dari salah seorang warga yang juga sebagai Dosen Kesehatan Lingkungan di Poltekes Kemenkes Yogyakarta yang bernama Bambang Suwerda untuk menciptakan Kesling (Kesehatan Lingkungan) untuk menghimbau masyarakat agar peduli akan kebersihan lingkungan. Namun seiring berjalannya waktu pada tahun 2008, Kesling ini diubah menjadi Bank Sampah yang kemudian juga dikenal dengan nama Bank Sampah Gemah Ripah, Bank Sampah pertama di Indonesia.

Adapun konsep yang diusung dalam Bank Sampah tersebut mengadopsi konsep ala perbankan. Jadi setiap penabung di Bank Sampah Gemah Ripah diberikan buku rekening. Buku rekening itu bisa atas nama pribadi ataupun bisa juga atas nama kelompok. Setap sampah yang ditabung di Bank Sampah Gemah Ripah memang hasilnya diberikan dalam bentuk uang. Uniknya uang tersebut tidak langsung diberikan ke nasabah, melainkan disimpan di Bank Sampah dengan tiap nasabah diberikan catatan berupa buku rekening.

Biasanya masyarakat banyak mengambil hasil tabungannya menjelang lebaran karena pada saat lebaran kebutuhan mulai meningkat. Bank Sampah Gemah Ripah telah berumur 10 tahun, awalnya Bank Sampah ini tidak mendapat dukungan dari masyarakat Badegan. Namun seiring berjalannya twaktu, mulai banyak masyarakat yang mendukung gagasan ini. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah nasabah di Bank tersebut, dulu hanya puluhan yang menabung di Bank Sampah Gemah Ripah, tetapi saat ini jumlah nasabah di Bank Sampah Gemah ripah mencapai ribuan. Baik nasabah yang berada di daerah tersebut maupun nasabah dari luar daerah tersebut. Selain menguntungkan nasabah, bank sampah dapat memperbaiki kondisi kesehatan lingkungan.

Modal Sosial yang ada di Bank Sampah Gemah Ripah terdiri dari partisipasi masyarakat yang mulai aktif dan Bank Sampah Gemah Ripah yang sangat aktif dalam memfasilitasi masyarakat baik itu dari sosialisasi Bank Sampah, melakukan partisipasi Bank Sampah, melakukan pelayanan Bank Sampah hingga Monitoring dan evaluasi. Kemudian antara Bank Sampah dan masyarakat juga saling melakukan tukar kebaikan (resprocity)  dari berbagai aspek, masyarakat sendiri telah mempercayai Bank sampah Gemah Ripah ini menjadi narasumber dalam seminar yang menyangkut tentang pengelolaan sampah. Oleh karena itu Bank sampah Gemah Ripah juga turut melibatkan masyarakat untuk ikut aktif dalam mengurangi, memilah, memanfaatkan, mendaur ulang dan membuang sampah, mulai dari siswa sekolah hingga masyarakat umum diajak untuk aktif dalam mengelola sampah.

Dengan mengubah pola pikir masyarakat mengenai sampah, Bank sampah Gemah Ripah mampu menjadi patokan umum dalam mengelola sampah maupun dalam usaha kreatifitas terhadap sampah. Relasi antara masyarakat dengan Bank sampah Gemah Ripah sendiri sangat konsisten karena dengan adanya bentuk baru dalam mengelola sampah maka masyarakat pun turut ikut senang dalam mengurusi sampah, karena mereka juga merasa diuntungkan dengan sistem seperti bank ini. Bank sampah Gemah Ripah ini sendiri juga sudah menjadi bentuk awal dari program pengelolaan sampah dimana disetiap daerah di Indonesia juga sudah mulai membentuk sebuah bank sampah. Sehingga harapannya dalam pengelolaan sampah di Indonesia bisa dikelola dengan baik dan benar, tidak hanya sebatas dalam memilah-milah sampah.

Dengan dibekali undang-undang mengenai pengelolaan sampah, Bank sampah Gemah Ripah menunjukan eksistensinya dalam pengelolaan yang baik dan benar agar bisa dimanfaatkan sebagai usaha baru, karena dilihat dari manapun sampah menjadi peluang usaha yang lumayan menguntungkan mulai dari membuat kerajinan dari sampah maupun dijadikan pupuk untuk tanaman, selain itu juga bisa mengurangi polusi tanah dan bisa didaur ulang. Jadi harapannya dalam pengelolaan sampah tidak hanya sekedar dikelola namun juga dilihat melalui sisi keuntungan usaha dimana sampah itu juga masih bisa dipergunakan untuk sehari-hari, karena pada dasarnya dalam mengelola sampah itu harus dilihat dari berbagai sisi tidak hanya dilihat dari satu sudut pandang saja, sehingga dalam proses mengelolanya pun juga bisa menjadi menyenangkan dan bisa menguntungkan berbagai pihak. Dan kedepannya semoga bank-bank sampah lain juga bisa turut menghadirkan fenomena baru atau kreatifitas baru dalam mengelola sampah (Yogi, Bimo, Aulia, Berta, Tiwi, Zulinar IS16)

Kuliah Umum dalam Rangka Dies Natalis HMJ IMATRI Ke-30

Prodi Ilmu Sosiatri STPMD “APMD” Yogyakarta, Kamis (7/12) mengadakan Kuliah Umum dalam rangka Dies Natalis ke-30 dengan tema “Pengembangan Sikap Kecendekiawan dan Volunteerism Mahasiswa” oleh Br. Yohanes Kedang MTB.

Bruder Yohanes atau sering disapa Bruder Johny merupakan alumni Ilmu Sosiatri STPMD “AMPD” Yogyakarta menjelaskan Ketika kita memberikan penyuluhan kepada masyarakat hal yang harus kita miliki adalah kemampuan.

Dimana kemampuan yang kita miliki harus kita kembangkan dan kita gunakan untuk memberdayakan masyarakat. Ketika kita memberdayakan masyarakat gunakanlah hati kita untuk memberdayakan mereka. Jika kita ingin membangun suatu hubungan dengan masyarakat “Ingatlah bahwa masyarakat memiliki harkat dan martabat yang sama dengan diri kita, dan milikilah sifat volunteerism”.

Diharapakan dari Kuliah Umum ini dapat membuka cakrawala HMJ IMATRI. Kekompakan suatu oraganisasi akan terlihat ketika suatu kegiatan akan diadakan. Misalnya saja APD, ketika mengadakan APD hal pertama yang harus diingat dalam pembentukan panitia harus melibatkan setiap angkatan. Ketika kita berada di lapangan (APD) berikan apa yang kita miliki kepada masyarakat sebagai catatan jangan mencari fasilitator dari luar, bahwa dengan hal seperti ini sama halnya diri kita yang diberdayakan. Saat memberdayakan masyarakat ingatlah bahwa masyarakat memiliki kekuatan tersendiri, yang berkaitan dengan kemampuan, kearifan lokal dan sumber daya alam. (Bertha-IS16).

Foto Kegiatan

Kuliah Tamu Menyambut aksi peduli desa 2018

Kongres Forum Komunikasi Mahasiswa Kesejahteraan Sosial
MAKRAB 2018
Makrab 2018
Dies Natalis IMATRI yang ke-29
Aksi peduli desa, di Padukuhan Lemah bang
Observasi PHBD 2018
Aksi Peduli Desa, di Kampung Kuwiran Muntilan Magelang

Aksi Peduli Desa (APD) 2018 “Membangun Desa Berbasis Aset dan Potensi Masyarakat Mewujudkan Desa Mandiri.”

(Kegiatan Menanam Bibit Pohon di pinggir Sungai Pabelan)

Menyadari pentingnya pembangunan yang merupakan proses perubahan sosial menuju masyarakat yang sejahtera serta menilik persoalan desa yang menyangkut kurangnya pengembangan sumber daya manusia, kurangnya kesadaran akan kekuatan, kelemahan, potensi, dan peluang desa, secara tidak langsung menuntut mahasiswa yang berkecimpungan di bidang pembangunan sosial khususnya mahasiswa Ilmu Sosiatri STPMD “APMD” Yogyakarta untuk turut mengambil bagian secara nyata dalam pemberdayaan masyarakat desa melalui kegiatan Aksi Peduli Desa.

Aksi Peduli Desa merupakan  kegiatan tahunan Prodi Ilmu Sosiatri dimana dalam pelaksanaannya menyuguhkan menu dengan beberapa kegiatan berbeda yang diharapkan bisa menjadi salah satu solusi bagi pembangunan masyarakat di pedesaan. Aksi Peduli Desa HMJ IMATRI Prodi Ilmu Sosiatri STPMD “APMD” kali ini dilaksanakan di Dusun Kuwiran, Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten  Magelang  pada hari Kamis, 3 Mei 2018 sampai dengan  Minggu, 6 Mei 2018, yang mengusung tema “Membangun Desa Berbasis Aset dan Potensi Masyarakat  Mewujudkan Desa Mandiri.”

Acara Aksi Peduli Desa yang dimulai pada Kami, 3 Mei 2018 dibuka dengan ramah-tamah panitia dan peserta Aksi Peduli Desa bersama masyarakat desa. Kegiatan Aksi Peduli Desa yang ke-6 ini diisi dengan beberapa rangkaian kegiatan, antara lain Sosialisasi Kebersihan  yang dilaksanakan pada Jumat, 4 Mei 2018. Pada kegiatan ini panitia dan peserta APD melaksanakan  susur desa. Kemudian dilanjutkan Pelatihan Kewirausahaan dan Kepemimpinan pada sore harinya yang diisi oleh Ibu Ratna Sosetya, S.Psi, M.Si, Ibu Dra. Oktarina Albizzia, M.Si., dan Bapak Drs. Oelin Marliyantoro, M.Si. yang merupakan Dosen Prodi Ilmu Sosiatri.

Pada hari ketiga (Sabtu, 5 Mei 2018) Panitia Aksi Peduli Desa melaksanakan dua kegiatan  secara bersamaan, yakni Pelatihan Kreatifitas Daur Ulang Sampah menggunakan Metode Decoupage yang diikuti oleh Ibu-ibu dan  Pemuda-pemudi desa, serta Aksi Tanam Pohon di sepundan Sungai Pabelan yang dilaksanakan oleh Bapak-bapak bersama peserta dan panitia Aksi Peduli Desa. Pada hari keempat (Minggu, 6 Mei 2018)  panitia dan peserta melaksanakan kegiatan bersih sungai. Dalam kegiatan ini masyarakat bersama mahasiswa turun langsung untuk membersihkan Sungai Pabelan.

Dalam rangkaian acara Aksi Peduli Desa, panitia dan peserta bersama masyarakat turut ambil bagian dalam setiap kegiatan  selama proses kegiatan berlangsung. Semoga kegiatan Aksi Peduli Desa Tahun 2018 ini mampu memberikan kontribusi positif bagi mahasiswa   peserta APD dan bagi  masyarakat  di    Desa  Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten  Magelang. (Bertha, IS16)

KUNJUNGAN FISIPOL UNIVERSITAS SABURAI BANDAR LAMPUNG KE STPMD “APMD” YOGYAKARTA

STPMD “APMD” Yogyakarta ( 20/02) menerima kunjungan dari Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai Bandar Lampung. Rombongan Dosen dan Mahasiswa yang dipimpin oleh Dekan FISIPOL Universitas SABURAI, Dra. Henni Kusumastuti, M.IP,  bermaksud studi banding dan kerjasama tentang pengelolaan perguruan tinggi dan pembangunan masyarakat desa terutama dalam hal proses pembangunan, pengelolaan, penilitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam sambutan Ketua STPMD “APMD”, Habib Muhsin, S.Sos., M.Si. menyampaikan bahwa kunjungan kali ini merupakan awal yang baik untuk kerjasama lebih lanjut dibidang Tri Dharma Perguruan Tinggi. Setelah mendengarkan pemaparan dan tanya jawab, rombongan dari Universitas SABURAI juga melakukan kunjungan ke Unit P3M, BAAK dan Perpustakaan. Diakhir kunjungan mereka menyampikan kesannya “Saya sungguh terkesan, banyak inspirasi yang saya dapatkan” demikian diungkapkan oleh salah satu peserta kunjungan.

VISI MISI ORGANISASI

VISI MISI ORGANISASI

HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN IKATAN MAHASISWA SOSIASTRI

Visi :

Membangun organisasi yang solid, partisipatif, profesional, dan berbasis keilmuan.

Misi :

1. Mewujudkan kegiatan yang berbasis gotong-royong antar mahasiswa.

2. Membina mahasiswa agar mampu bersaing dengan dunia luar agar memiliki      karakter.

3. Mengadakan kegiatan yang berbasis keilmuan social.

Kontak

 

Logo HMJ IMATRI

Himpunan Mahasiswa Jurusan Ikatan Mahasiswa Sosiastri
Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD”
Jalan Timoho 317 Yogyakarta 55225
Telpon   : (0274) 561971
Fax         : (0274) 515989
Email     : imatri@apmd.ac.id
Website : kbm.apmd.ac.id/hmjimatri/

Sejarah berdirinya HMJ IMATRI

Berawal dari semakin bertambah banyaknya jumlah mahasiswa Ilmu Sosiatri, maka mahasiswa memerlukan wadah yang dapat menampung mereka agar dapat memaksimalkan potensi dan pengembangan diri. Berkaca dari  itu pada tanggal 24 November 1987 berdirilah Himpunan Mahasiswa Ilmu Sosiatri yang selanjutnya disingkat IMATRI. Dalam perkembangannya, seiring perkembangan Civitas Akademik kampus maka pada tahun 1994 Himpunan Mahasiswa Ilmu Sosiatri mendapat rekan kerja baru yang tidak lain adalah Jurusan Pembangunan Masyarakat Desa (PMD), yang disahkan melalui SK yang ditandatangani oleh Wakil Ketua III bagian Kemahasiswaan. Dinamika Organisasi pun terus berjalan dengan berbagai lika-liku. Kekompakan diantara dua jurusan ini pun semakin terlihat karena dua jurusan ini memiliki karakter dan disiplin ilmu yang sebagian besar sama. Namun pada awal tahun 2000-an, dinamika organisasi pun mulai berubah seiring dengan perkembangan dan idialisme sebuah organisasi. Hingga akhirnya pada tahun 2017 Program Studi Pembangunan Masyarakat Desa (PMD) resmi berpisah dengan IMATRI. Dengan dinamika yang ada ini HMJ IMATRI pun terus berbenah. Pada tahun 2018 HMJ IMATRI berganti nama menjadi HMPS IS, yang mengacu pada pengahapusan nama jurusan dan diganti dengan Program Studi pada tanggal 27 Mei 2018 nama HMJ IMATRI resmi berganti nama menjadi HMPS IS yang berdasarkan pada hasil Musyawarah Anggota Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Sosiatri yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Kedepannya dengan pembahruan yang ada ini organisasi ini dapat berkembang dengan lebih baik.